Jakarta, kemiskinan telah disampaikan oleh gereja – gereja di Indonesia, hasil peningglan bangsa eropa, dengan harapan adanya perubahan hidup, kebejatan dan kebiadaban kaum masyarakat Tionghoa dan Dayak, serta Jawa atau Melayu (migrasi), dan Timur (NTT, terutama) Keuskupan Agung di Indonesia.
Bahasan, kekuasaan dalam bentuk perebutan mata pencaharian tentunya lebih banyak digeluti kaum masyarakat pribumi di Indonesia, untuk bertahan hidup terhadap kemiskinan di Indonesia. Pekerjaanya bermacam – macam.
Dimulai dari definisi sebagai tenaga medis, pendidik, dan kehidupan dramatis orang pribumi tentu sebelum penganut non kristiani. Ketika jatuhnya kekuasaan di Indonesia, kebiadaban orang Tionghoa tidak berbeda jauh dengan apa kaum pribumi yang hidup di Indonesia.
Lai Notaris, hidup di gereja katolik, seperti pemakaman sebagai bentuk aksi sosial, dan hidup di masa lalu dalam ekonomi di Jakarta. Urbanisasi terjadi, dengan sendirinya dengan kebuasaan kaum Tionghoa dan kekejaman orang Batak Indonesia, sebagai budaya makan orang, yang tidak berbeda jauh kasusnya di tahun 1967 Tionghoa - Dayak di Pontianak.
Kemiskinan Tionghoa Indonesia, ditandai dengan adanya seksualitas atau biologis dalam hal ini, penganti dari Rahim perempuan yaitu darah. Kejahatan tersebut, tidak berbeda jauh dari apa yang akan direncanakan hidup masyarakat.
Dinamika, Budaya batak - Jawa ( Sihombing, Siregar, Marpaung, Malau ), Jakarta ketika itu sebagai budaya, dan perusak sebagai orang Jawa pada orang Tionghoa, dari hasil urbanisasi numpang hidup, tukang ngentot atau seksualitas, Wahyu : 19 marga Lai Notaris - Lim, dalam bisnis dan birokrasi itu, 2011 terjadi dinamika perubahan kota Jakarta.
Telah disampaikan pula hidup, masyarakat Tionghoa, dan
kriminalitas hidup di masyarakat, dengan kekerasan verbal, untuk bergaul dalam
lingkungan gereja katolik dan kring telah baik, menjadi gambaran terhadap
kepura – puraan hidup sebagai orang Kristiani di Indonesia, 2011 – hingga sekarang.
Kekejaman, yang Ingin berkuasa secara medis, di gereja katolik dan non, dengan alasan kemiskinan setelah menjalankan roda pemerintahan, dan penyingkiran terhadap marga djan 1970an, Di Kab. Sintang - Orang Dayak.
Pada birokrasi dan pendidikan di Kalimantan Barat, oleh Orang Dayak, orang Jawa - Sultan, dan
Tionghoa serta Batak di Indonesia, Lingkungan gereja katolik dan komunitas persekutuan doa non kristiani sebelumnya latar belakang mereka.
Untuk mendapatkan, migrasi dan pengetasan kemiskinan dibuat terhadap orang melalui misi gereja katolik, dan komunitas, seperti migrasi ke Negara maju, seperti Australia, USA, Inggris, dan Jepang, melalui pendidikan, dan seksualitas.
Sejarah, Pengumpulan Kekayaan Atau Aset Dan Medis
Ada suatu cerita dari seorang keluarga, Orang Batak, Tionghoa Dan Dayak disekitar lingkungan, bahwa Kemiskinan, dan pengumpulan harta kali ini.
Menyerang lewat aset Kebiadaban orang pribumi, Jawa - Tionghoa di gereja ketedral santo yosep dengan menggunakan aset dan mobil atau transportasi, begitu juga orang Dayak - Iban, Kapuas Hulu, Martin Gilang, Paroki Bunda Maria Jeruju, Institute.
Yang dengan perkataannya sendiri di Pontianak, oleh Pak Eko paroki keluarga kudus, bukan imam, dan guru bahasa mandarin "mak lan", di lingkungan Lai notaris, tak punya malu hingga sekarang untuk numpang hidup.
Sampai saat ini dalam hal ini "katanya demikian "rumahnya besar", hasil kebuasaan dan kekejaman dan seksualitas - biologis. Dengan kata lain mau bersanding seksualitas orang Jawa - Tionghoa (djan dan bong sebagai orangtua, 1989) - Batak, dan Daniel Oktodeli Sihombing (kriminal), disengaja.
Baik dengan memaksa serta melakukan kekerasan atau pemukulan di Pontianak kepada saya, djan tak punya malu, karena berkaitan dengan Islam seorang pendidik dan dosen itu, serta ekonomi dan bisnis yang dilakukan orang Tionghoa GKKB, Gajah Mada, Pontianak, Wakil Gubernur Christiandy 2008 - 2018.
Dikring 6, kelompok nama inisial susi sebelumnya katolik, kini sudah masuk orang Protestan. " sy tanya balik, kelas sosial anda apa? dan bagaimana hidup anda sebelumnya, adanya gereja? Masa, di Pontianak adalah seorang kriminal dan kekerasan.
Hidup sebagai orang tua, untuk menyerang saya secara pribadi, begitu juga pendidikan saya di universitas dan gereja katolik di Katedral Pontianak santo Yosep, dan MRPD Pancasila. dan sekolah GKE, yang melibatkan seorang imam katolik, dan pendeta di Pontianak, serta politisi ketika itu.

0 comments