Kekerasan yang disertai dengan dinamika budaya masyarakat Tionghoa Hakka di Pontianak tampak pada dinamika sosial masyarakat perkotaan, secara individual dan komunitas terjadi di lingkungan Keuskupan Agung Pontianak. Hal ini dikarenakan tingkat kemiskinan, penganguran dan budaya sosial masyarakat perkotaan terhadap budaya ekonomi di Pontianak terhadap konsumsi tidak baik – baik saja.
Hal ini, disertai dengan adanya pahami agama, pendidikan serta kehidupan
moralitas dan dinamika sosial masyarakat Tionghoa Hakka terhadap kemiskinan
hidup dan budaya sosial seperti yang terjadi makian dalam etika kelas sosial.
Yang memicu berbagai konflik masyarakat adat dan Tionghoa Hakka
perkotaan, ketika ingin duduk dalam dinamika sosial keagamaan, dan ekonomi
disamping itu dengan hidup suku di Indonesia berasal dari politik identitas
suatu masyarakat sipil yang berbeda pandangan terhadap konflik pertanahan, dan
mata pencaharian mulai diketahui menurun.
Kepemilikan lahan pertanahan yang berasal dari masyarakat adat, dan
konflik yang terjadi tentu menjadi pemicu dari kelas sosial dalam akses
ekonomi, dan lahan yang rendah dalam pemenuhan kehidupan sehari – hari di
pedesaan. Hal ini terjadi konten konten dan kreator digital yang memaki
penjabat daerah, dan pejabat lainnya untuk diketahui dengan baik kondisi di
pedesaan yang rumit untuk kebutuhan pokok.
Ketika hal ini dipahami dengan
kondisi kelas sosial berasal dari pedesaan, pemenuhan nasib kehidupan sosial
budaya masyarakat adat yang berasal dari kemiskinan hidup, dan spritualitas memicu
berbagai emosi dan tindakan yang berasal dari kehidupan miskin terhadap respon
masyarakat pada akses kesehatan dan energi serta hasil hutan.
Kab. Sintang misalnya, desa – desa Ketungau yang rusak jalannya tampak
dalam dinamika kehidupan sosial seperti jalan yang membutuhkan akses untuk
masuk ekonomi di perkotaan. Bagi mereka yang bekerja di swasta tentu hal ini
memakan gaji dari kehidupan ekonomi desa. Hal ini terjadi dengan adanya budaya
masyarakat terhadap perkataan yang ingin direalisasikan.
Kondisi ekonomi di wilayah Keuskupan Agung Sintang, tentu bagi mereka
yang bekerja di non pemerintah menjerit terhadap kondisi mereka saat ini.
Berbagai konten digital diketahui ditujukan pada pejabat daerah hal ini agar
tindakan nyata terhadap program pemerintah di realisasikan.
Dampak terhadap hal ini maka terjadi dengan adanya budaya sosial yang
saling menuding, dengan karakteristik masyarakat adat di pedesaan. Dengan
demikian, berbagai hal terkait kerja nyata program pemerintah saat ini tentu
menjadi harapan masyarakat Sintang terhadap berbagai proses kerja dalam suatu
program pejabat daerah perlu diperhatikan.
Melalui hal ini pemerintah dan gereja dalam hal spritualitas dan kerja
masyarakat sipil terhadap dinamika budaya sosial masyarakat adat terhadap
respon pemerintah bagi mereka yang hidup dalam tingkat kemiskinan amat jarang
sekali, bagi yang memiliki lahan tentu kebutuhan pokok selain sawit dan karet
dapat dipenuhi melalui hasil pertanian.

0 comments