Gereja katolik di Keuskupan Agung Pontianak, memiliki cerita yang didengar, terhadap upaya penyelesaian konflik etnik yang terjadi pada tahun 1967 di Pergudangan, dan pengsungsian sekitar gereja katolik stella maris Pontianak.
Korban jiwa yang berjatuhan begitu banyak, telah melampaui
berbaga hal terkait dengan aspek kelas sosial, kesehatan, dan gizi yang berada
di kamp perkampungan. Hal ini tentunya menjelaskan konflik etnik pada saat itu
terjadi, bertepatan dengan konflik sumber daya alam.Tentu mengakibatkan
korban jiwa atau kematian tidak begitu baik.
Masa reformasi, bertepatan dengan krisis ekonomi 1997 hingga
turunnya Soeharto sebagai Presiden telah menyisakan luka terhadap kaum Tionghoa
pada pendidikan di gereja – gereja, dan migrasi terjadi di sejumlah Negara
bagian.
Maka, dengan adanya berbagai hal terkait dengan ekonomi dan
budaya, akan mengakibatkan kemarahan terjadi yang terus menerus tidak baik bagi
penegak hukum, dan kehidupan pers atau media yang meragukan sejumlah dinasti
dalam hal ini masing – masing partai politik.
Tionghoa berurbansiasi dari hulu – ke kota tentunya dengan
politik kampung yang mengakibatkan berbagai hal terkait dengan moralitas dan
etika dalam setiap perdagangan yang dilakukan oleh Tionghoa Hakka – Dayak disini,
hasil dari seksualitas.
Politik identitas tentunya mengambarkan berbagai hal terkait
dengan pengetahuan filsafat yang disebabkan berbagai hal terkait dengan adanya
ketiadaan uang dalam hal ini pada setiap korban dari politik ekonomi di
perkotaan.
Catatan sejarah yang mengakibatkan berbagai keterlibatan
para (imam militer) yang berada pada penugasaan terjadi, tentunya ada yang tidak
senang dengan monarki terutama Tionghoa Indonesia, dan hasil asimilasi
seksualitas.
Politik ketika itu tentunya Golkar baru di ikuti oleh PDI –
Perjuangan yang kemudian diamuk oleh massa dan berbagai gerakan masyarakat
terjadi dengan adanya aspek politik agama, ada kekuasaan di gereja katolik.
Etnik dan agama memiliki nilai terhadap pembelajaran para
pakar dan filsuf yang berdampak pada imajinasi disetiap tragedy kemanusiaan
terjadi. Demokrasi ketika itu, memang hanya sebagai politik jangka pendek.
Dengan adanya kekuasaan ingin menguasai ekonomi sebagai dasar dari kekuasaan dan penindasan, dan ketidaksenagan maka ekonomi menjadi kekuasaan untuk membayar penegak hukum atau pengadilan.
Hal ini menyimpang dengan kekuasaan yang tidak patuh pada daerah dan lainnya. Untuk memutarbalikan fakta akan lebih berbahaya dalam hal ini. Berdampak pada politik ekonomi, dan kemiskinan terjadi di wilayah konflik.

0 comments