Pontianak, kerusuhan sambas terjadi pada tahun 1999 menjadi sifat buruk dalam spritualitas masyarakat Dayak atas kegeraman kehidupan rohani di pedesaan. Suster yang tinggal di Sarikan, dan ketidaksenangan orang jawa dari perkataan menjadi awal dari konflik terjadi.
Mata pencaharian masyarakat Madura pada garam lebih baik, dipulau
itu tempat mereka berasal. Seringkali hal ini digunakan untuk masakan, dan
penyebab ikan asin yang digunakan untuk penyedab. Membelah gunung dalam
dikerjakan dengan baik, itu yang dipakai oleh imam dan Uskup disini untuk
mereka bekerja.
Setiap yang datang, ntah itu mendadak dan hidup miskin masyarakat
adat, adalah ketika kehidupan sosial atau spritualitas menjadi alat terhadap
ketidaksenangan dan iman yang kurang taat pada Tuhan ketika itu. Hal ini
terjadi dengan baik, adanya moralitas dan etika.
Hukum yang terus digunakan di Jakarta, adalah ketika kehidupan dan
moralitas tidak terjadi dengan baik oleh Gibran terhadap Pak Prof. Mahmud MD.
Hal ini menjelaskan berbagai hal terkait dengan debat yang berlangsung tidak
baik, terhadap emosi anak muda ini.
Seringkali politik etnik, dilakukan dan dikerjakan dari
ketidaksenangan orang Jawa biasanya diluar Biara, hal ini disebabkan dengan
adanya politik etnik yang telah terjadi. Ketika hal ini diketahui bahwa Konflik
etnik dan Rubuh Goa Maria di Sarikan 2005 - 2006, oleh Orang Muda Katolik di
Keuskupan Agung Pontianak.
Sejarah singkat, terhadap berbagai pemahaman kitab suci, dan agama
lekat pada masalah hidup, persaingan dan kelas sosial yang diketahui ingin
lebih dari masing – masing individu masyarakat adat disini. Maka, hal ini
penting dalam melihat berbagai hal terkait dengan moralitas dan etika hidup
antara religios dan spritualitas.
Kehidupan buruk anak – anak muda disitu telah dipahami adanya
kemiskinan yang terjadi dengan adanya masalah hidup, dan moralitas etika dan
konflik etnik terjadi sebelum adanya ekonomi yang dilangsungkan dengan adanya
setiap sistem birokrasi masyarakat adat, dan budaya sosial.

0 comments