Bagaimana, Kekerasan Dan Menjadi Seorang Katolik ?

Hal yang perlu diketahui ketika agama menjadi bagian dari setiap individu dalam memahami persoalan sosial, kehidupan, dan spritualitas untuk diketahui bagaimana kehidupan di komunitas menjadi tempat untuk bisa bertumbuh.

Seringkali, dalam setiap komunitas pertumbuhan iman sering disalah artikan dalam setiap pekerjaan, keinginan, dan lainnya untuk meperoleh kehidupan nyata saat ini. Ketika kekerasan menjadi aspek dari memahami masalah hidup manusia diluar non Katolik.

Disini, katolik banyak dianut bagi mereka yang hidup dalam ketaatan agama lainnya seperti Konghucu, Loya, Islam, Hindu, dan Budha itu adalah salah satu pemahaman tentang keagamaan. Seringkali kemiskinan terjadi di Indonesia, atau diwilayah mana pun tempat orang Tionghoa berasal terutama diperkotaan.

Untuk menjadi seorang Katolik memang sulit apalagi menjadi seorang Pastor dan Uskup. Hal yang perlu diketahui adalah ketika proses keagamaan terjadi hanya untuk melihat karakteristik dan keseharian hidup orang Katolik yang tidak mengingingkan kekerasan terjadi, Gedung Bos Pasifikus tentu dengan latar belakang agama orangtua berbeda,  Pesta Perak Pr. Mayong OFM. CAP.

Dalam suatu komunitas keributan seperti itu terjadi pada orang yang baru mengenal Tuhan Yesus, bahkan dalam hal ini belajar Kitab Suci atau membaca kitabsuci itu adalah hal yang sulit bahkan lelah itu pengalaman iman seorang Pastor misalnya dalam khotbahnya.

Ketika hal ini, keinginan dan kemiskinan terjadi bukan dikarenakan hidup mengereja dengan persoalan masa lalu dalam rumah tangga seperti orangtua, keinginan, dan ketaatan. Hal ini seringkali terjadi dengan adanya masalah penggilan hidup mengereja, dan membiara.

Pengalaman hidup manusia dalam hal ini tidak dapat disangka dengan adanya masalah ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Karena di Indonesia, hal ini terjadi adanya masalah konflik yang terjadi dikarenakan keinginan, dan budaya yang memang berani untuk di ketahui ketika Tionghoa di Indonesia menguasai ekonomi.

Tetapi, hal ini terjadi dengan adanya budaya dalam agama sebelum adanya Katolik masuk dalam rumah tangga yang memiliki agama berbeda. Dengan demikian, kekerasan terjadi dikarenakan keinginan merugikan lainnya, kekerasan terjadi karena hidup miskin, dan lainnya. Di Pontianak, politik ekonomi terjadi pada tahun 1999 – Reformasi.

Pembenahan agama, dan ekonomi di Indonesia terjadi besar – besaran hal termasuk di gereja Katolik, dengan begitu ekonomi terjadi dengan adanya keinginan dalam pemenuhan hak ekonomi, dan politik terjadi pada masa kaum perempuan bekerja dan berusaha.

Fakta terjadi dengan adanya masalah hidup di Indonesia, maka kekeringan pertanian terjadi, ekonomi pangan terjadi perubahan tidak menentu sehingga ekonomi rumah tangga tergangu dengan adanya kehidupan tidak layak, dan kesehatan terjadi dengan adanya kebutuhan dan moralitas rendah terjadi.

Masalah – masalah itu muncul ketika berbagai hal terkait dengan kehidupan realitas terjadi dalam hal ini pembangunan gereja terjadi di Indonesia, sedangkan tara wilayah layak huni, serta ekonomi rumah tangga menurun, dan terjadi pengganguran dan kemiskinan kaum muda di  Keuskupan Agug Pontianak.

Hal ini, terlihat ketika masalah – masalah hidup terjadi dengan adanya pesan moral, dan budaya yang berasal dari pembelajaran iman katolik, dalam bidang ekonomi maka kerendahan hati dan kesopanan untuk di junjung dalam kehidupan masyarakat pribumi dan Tionghoa Indonesia, terutama Kaum Muda Katolik.

0 comments

Recent Posts Widget
close