Budaya, Sosial Petunjuk Bagi Wisatawan Kota Pada Pandangan Spritualitas

Pontianak, membahas kota adalah suatu upaya manusia untuk memahami beragam dinamika sosial kebudayaan Tionghoa dan Melayu di Kota Pontianak. Kehidupan perkotaan disini, meliputi beragam etnik dan budaya, serta mata pencaharian  kehidupan perkotaan di Pontianak.

Selain itu, bagi pendatang diketahui ekonomi dan wisata rohani, tetapi memiliki nilai sejarah di kota Pontianak bagian Utara, dan Pontianak Kota, Katedral, Santo Yosep. Tidak hanya memiliki ragam kuliner yang dapat dinikmati secara instan, namun melalui proses tahapan dinamika budaya sosial, serta konflik didalamnya.

Maka, dengan kehidupan mata pencaharian yang biasa – biasa saja tampak dengan adanya budaya masyarakat serta kehidupan sosial, pendidikan dan kampus dengan ragam budaya terhadap perkampungan sosial yang dibuat di pedesaan.

Hal ini menjelaskan berbagai kelas sosial, masyarakat secara umum. Jika perkotaan lebih banyak aktivitas ekonomi terutama di pasar ketika pagi. Hal ini diketahui dengan adanya ragam budaya sosial masyarakat kota terhadap aktivitas khusus masyarakat adat dan Tionghoa Hakka.

Urbanisasi perkotaan tampak terjadi dengan adanya dinamika sosial dan masyarakat adat yang enggan diketahui baik sesuai dengan moralitas dan budaya adat yang dilangsungkan dikota, maka biaya spritualitas lebih mahal ketimbang hidup perkotaan disetiap bulannya.

Kehidupan perkotaan yang kotor, dan spritualitas yang baik di pedesaan tampak terhadap pelayanan iman gereja – gereja katolik dan protestan terhadap pandangan agama dan kepercayaan yang dianut. Hal ini jelas dengan adanya dinamika sosial budaya masyarakat kota terhadap kehidupan yang carut maut memiliki tingkat emosi yang tinggi dan manusia yang beragam tidak baik tentu.

Kehidupan agama katolik, sebelum orang beragama dengan iman kristiani, bagaimana kehidupan sekolah diketahui dengan adanya budaya masyarakat kota belum mengenal iman tampak dengan adanya budaya sosial, serta konflik terjadi yang dibuat oleh non kristiani.

Ketika, iman Kristiani mengencam konflik tetapi kemiskinan dan ketidakmaluan gereja dan etnik tampak dari kemiskinan hidup pedesaan,  sedangkan Tionghoa Indonesia tampak dari pemukiman, dan mata pecaharian yang diperoleh, serta moralitas dan etika yang tidak baik.

Hal ini diketahui dengan adanya budaya sosial masyarakat hukum adat mengenai dinamika sosial masyatakat adat yang diketahui dengan adanya moralitas dan hubungan sosial yang baik terjadi sekatan yang kuta dengan kalangan lainnya. Hal ini menjadi tanda terhadap budaya masyarakat adat dan kelas sosial yang berasal dari kemiskinan, dan spritualitas.

Maka, dengan terjadi adanya ekonomi yang kini berasal dari kemiskinan spritualitas, rasa malu dengan istilah hukum agama yang lekat pada kebudayaan sosial masyarakat adat yang masih mengenai hukum mata ganti mata.

Dan hal ini menjelaskan berbagai pandangan hukum terhadap hubungan spritualitas. Tetapi. Ada sebagian oknum memanfaatkan agama dan peluang tersebut dengan berbagai ragam penindasan dan penganiyaan, hal ini terjadi diberbagai wilayah berkonflik  serta mata pencaharian ekonomi rendah terutama Negara berkembang seperti Indonesia.

 

 

0 comments

Recent Posts Widget
close