Identitas Dayak, Politik, Dan Kaum Muda Di Kehidupan Sosial Budaya Adat ?

Pada dua tahun terakhir ini, terutama Pekan Gawai Dayak 2025 – 2026, ketika politik lokal berada dari kepentingan politik ekonomi di perkotaan telah menurun. Dalam hal ini, terjadi pegangguran, kekurangan gizi serta krisis ekonomi terjadi dalam hal ini terkait persoalan gaya hidup, dan interaksi sosial berasal dari kaum muda ini menurun.

Maka, apa yang dapat diperoleh dan diketahui adalah ketika kehidupan budaya masyarakat adat telah menuai hasil seperti ini. Kampus – kampus telah kehilangan intektualitas dalam hal ini dikarenakan budaya adat seperti mabuk, telah menjadi salah satu khotbah yang di sampaikan oleh Yang Mulia Mgr. Pius Riana Prabdi ketika Pekan Gawai Adat Dayak, Mei 2026  XL di Rumah Radank Pontianak, Kalimantan Barat.

Hal ini, tentu memicu berbagai kalangan pekerja, mahasiswa, serta orangtua dan politisi yang hadir ketika sore itu. Maka, berbagai situasi kaum muda terhadap politik di Kalimantan Barat terjadi dengan adanya kebudayaan adat yang masih mengalami krisis sumber daya manusia.

Sejauh ini, berbagai tantangan, dan harapan merupakan salah satu bagian dari setiap doa yang disampaikan dalam ruang gedung Pasifikus ini adalah ketika kehidupan sosial budaya masyarakat adat, didasari dengan agama Katolik yang berasal dari Tuhan, adalah kehidupan sosial, dan moral akan hilang tanpa malu dalam kehidupan sosial politik, dan ekonomi.

Hal ini tidak hanya terjadi di gereja – gereja, kampus, dan sekolah – sekolah katolik yang ada di Pontianak, tetapi juga namun terjadi juga masalah - masalah di dalam kehidupan sosial, rumah tangga, dan lingkungan doa serta komunitas yang memiliki karakteristik, dinamika budaya yang berasal dari hidup iman yang diperoleh dari Tionghoa Hakka 1990an – hingga saat ini (2026 -), pontianak disini dan perkampungan.

Yang didasari dengan adanya budaya tersebut, maka berbagai dialog politik, khotbah disampaikan dengan jelas bahwa identitas diri tidak hilang, dalam pelestarian budaya Dayak, tetapi tanpa kehilangan intektualitas yang terjadi dengan adanya dinamika masyarakat adat, dan kota setempat hingga saat ini dengan pluralisme.

Maka, pembangunan pedesaan pada tahun 2026 terjadi dengan budaya masyarakat adat, hingga saat ini masih dipahami dengan adanya model kehidupan sosial, ekonomi dan sumber daya manusia yang dibutuhkan, maka muncul dengan adanya proses kehidupan masyarakat Internasional, dan Global.

Wilayah yang hidup di perbatasan tentu dengan adanya budaya masyarakat adat yang berasal dari pedesaan, seperti pertanian, perkebunan, perikanan, dan jasa tentu dipahami dengan adanya ekonomi yang berjalan sesuai dengan kehidupan tradisional yang masih jauh pada kehidupan perkotaan seperti Jakarta. Maka, urbanisasi dan migrasi masyarakat masih terus diawasi dengan adanya masalah sosial, konflik, dan gaya hidup.

Ciri – Ciri seperti itu disampaikan, dengan baik dari setiap persoalan terjadi, tanpa mengurangi adanya identitas Dayak, maka, berbagai tantangan hidup masyarakat, kejujuran, dan kehidupan sosial, serta moral menjadi landasan suatu bangsa, terutama bagi mereka yang masih hidup dalam pola pikir Indonesia, dan perbatasan di Malaysia.   

0 comments

Recent Posts Widget
close