Katolik, politik dan birokrat di Indonesia cocok untuk ditujukan bagi mereka sebagai biang dalam hidup dan pekerjaannya selama bermata pencaharian dan bekerja sebagai pegawai pemerintahan yang meliputi budaya Tionghoa dan Masyarakat adat.
Menjual
agama katolik di masing – masing gereja katolik RI selama bertugas, dan kaum
rohani, dan biarawan – biarawati justru dapat diacungkan jempol sebagai bentuk
dari keburukan hidup di masa lalu selama mengereja dan pertobatan, itu adalah
wajah dari kehidupan miskin masyarakat adat disini.
Apa yang
disampaikan dalam hal ini tentu dapat menjadi penolakan bagi mereka yang hidup
dalam pekerjaan sebagai kaum birokrat sebelumnya kemudian bagaimana masuk biara
untuk mengajar – mengajar dan menakuti kaum pendatang, itulah orang Dayak
disini sebagai kaum kebuasan sebagai agama dan Ordo terutama OFM. Cap di masa
lalu.
Cerita
panjang dalam hidup dan ketidakjujuran tentu menjadi cermin dalam perlawanan
sebagai bangsa Indonesia, dan hidup sebagai kaum yang tentu menentukan hidup
berdasarkan injil yang menjadi acuan dalam iman katolik.
Elit
Politik yang bergabung dalam hal ini, tentu menjadi awal dari kehidupan budaya
masyarakat yang merasakan dari kemiskinan hidup bagi yang membiara sebagai
bentuk dari wajah Indonesia, sebagai kaum beragama dan hidup miskin serta
pekerjaan seperti orang di sini meliputi kebsukan kaum guru dokter, dan dosen
yang hidup mengatasnamkan katolik dan keburukannnya di RI.
Kelakuaan
hidup kaum pribumi RI, sebagai orang Dayak dan Jawa tentu berdasarkan kasta dan
hidup buruk sebagai orang Indonesia, dan itu adalah bagian dari hidup tanpa
pandangan katolik, dan latar belakang selama pembinaan iman katolik. Orang
tersebut meliputi pandangan terhadap agama yang berasal dari kemiskinan hidup
sebagai WNI, seperti gereja dan kapel itu miliknya saja dan kemiskinan sebagai
Negara RI.
Rasa tidak
memiliki malu tentu membentuk orang Indonesia, dari berbagai bidang dan aset
yang diperoleh dari hidup dan kecurangan hidup dalam ekonomi, politik dan
budaya. Maka, jelas bagaimana hidup dalam masalah ekonomi, konflik sosial, dan
budaya dan politik yang memang buruk di pedesaan ketika membiara, dan bekerja
di Institusi Katolik RI, sebagai latar belakang hidup dan keluarganya yang
rendah itu namanya perubahan nasib, dan penyingkiran bagi pendatang berurbanisasi.

0 comments