Politik, Gereja Katolik - Non Kristiani, Dan Kemiskinan Di Indonesia

Katolik - Kemiskinan dan kriminalitas terjadi di berbagai wilayah, termasuk di Indonesia sejak Indonesia berdiri dengan adanya konflik sosial, budaya Timur dan Barat, serta agama ketika itu dan berujung pada pembunuhan massal di berbagai wilayah yang ada di Indonesia.

Keuskupan Pontianak, ketidaksenangan kaum pribumi - Tionghoa Indonesia meliputi suku Batak – Jawa (orang) dan Tionghoa Indonesia terutama di tanah Jawa, berekonomi dengan mata uang terhadap pengabdiannya terhadap aspek politik dan hukum kolonial berlangsung pada tahun 1967 – 1999 hingga sekarang.

Penyingkiran mata pencaharian dimulai dari lingkungan gereja Katolik - Protestan dilakukan oleh orang Dayak - Timur Indonesia meliputi NTB imam katolik bertugas, dan Ambon - (orang L) serta Batak Sihombing – Melayu pada seksualitas dengan kelas sosial rendahan, berurbanisasi ke wilayah Kalimantan Barat 70an – hingga sekarang.

Migrasi orang Tionghoa Indonesia diberbagai wilayah dan Negara menjelaskan adanya perubahan hidup dan berbagai pola kehidupan yang baik di masyarakat. Kaum masyarakat Batak, numpang hidup dengan aspek pendidikan dan kesehatan di gereja - gereja, dengan berbagai aspek dikasihani dalam setiap program pemerintah RI, dan pajak di masyarakat sebagai kehidupan kotor mereka di masa lalu.

Hal ini menjelaskan bagaimana kehidupan sosial budaya dan agama di Pontianak, ketika mereka menjual kemiskinan suatu Negara dengan etika dan moral yang rendah sebagai masyarakat Indonesia. Pembangunan di Indonesia, menjelaskan adanya kepentingan politik dan agama, untuk mematuhi perintah Tuhan dengan berbagai ragam pekerjaan di dalam rumah tangga.

Mereka hidup berdasarkan doa dan pelindung santo – santa dalam kehidupan sosial, terbukti disekitar lingkungan kring - kring, di Pontianak dan etnik yang dari hasil penjarahan di masa lalu, pembunuhan, pemerasan - pribumi, serta kekerasan dan seksualitas (kelas sosial) menghindari tingkat kemiskinan kota dan orang dalam suatu Negara.

Menjelaskan tingkat kemiskinan terjadi dalam hal ini adalah dengan berbagai kisah hidup filsafat dan spritualitas sebagai symbol budaya di masa lalu serta  memaksa dan tidak tahu malu – moralitas dimulai dari masa kanak – kanak dan dewasa. Hal ini sebagai contoh profesi dosen – pendidik dan tenaga medis, dan orang muda katolik di Keuskupan Agung - penyuluh.

Nilai jual dalam suatu masyarakat, pada setiap pemilihan politik Gubernur (1945 -), Kalimantan Barat dalam penyimpangan sosial, kesejahteraan, dan aspek mata pencaharian yang terlihat dari ragam kehidupan sosial, dan transportasi, dan pendidikan yang diperoleh dengan latihan disengaja (dokter). 

Perebutan harta kekayaan meliputi sumber daya alam, dan seksualitas, dan kerja di gereja katolik serta budaya di Indonesia pada masa itu. Kepentingan politik agama, berdasarkan mata pencaharian tampak pada masa periode kepentingan politik dan ekonomi yang terjadi bagi orang yang melangsungkan peran tersebut sebagai modal atau aset. 

Pola untuk bertahan hidup di kota masing – masing tempat kepentingan partai politik - birokrasi,  di Indonesia terdiri dari paham politik berdasarkan aspek kepentingan masyarakat yang meliputi kerja partai politik PDI Perjuangan 1999, PPP 1973 dan Golkar (Orde Baru) serta PSI 2014 dilanjutkan dengan Nasdem.

 

 

0 comments

Recent Posts Widget
close