Gereja Katolik, Tionghoa Indonesia – Pribumi, Islam Pengetahuan Baik Dan Jahat

Indonesia, Pada tahun 1990an, tepatnya krisis ekonomi terjadi hingga saat ini covid19 (2020 -) yang berasal dari kelas sosial di masing – masing paroki. Orang tidak tahu malu tentunya berurbansiasi ekonomi, dan politik melalui Islam di Indonesia, dan menjadi Katolik.

Janji babtis di lakukan masing – masing paroki, terhadap berbagai kemiskinan dan birokrasi masing – masing daerah pada tahun itu. Gereja katolik di Indonesia, menjelaskan kemiskinan dan penganguran terhadap kepentingan politik dan budaya tingkah lalu yang tidak baik di Pontianak.

Orang biasa terutama kalangan Jawa hidup dalam kemiskinan dan peganguran dari hasil ulah mereka di masa lalu terhadap konflik di Indonesia, begitu Tionghoa Indonesia dalam hal ini beragama non kristiani sebelum itu.

Pendidikan dan kesehatan di tangan oleh Kapusin di Indonesia, dan ternyata tidak baik pula terhadap orang sekeliling mereka terhadap kehidupan di masa mereka. Konflik etnik, budaya dan kekerasan rumah tangga terjadi, begitu juga persekolahan selama saya berpendidikan.

Kebuasaan dan keganasan kota Pontianak, untuk meniadi bukti dari segala kegiatan dan moralita hidup mereka selama hidup dalam bermasyarakat. Hal ini menjelaskan adanya kehidupan sosial budaya dan agama yang kelak menjadi penting diketahui melalui turunan mereka terhadap orangtua mereka dalam beragama katolik.

Jawa dengan tingkah laku hidup mereka di masyarakat, terhadap pendidikan dan kesehatan menjadi penting bagi pemusnahan orang Tionghoa Indonesia sebelumnya. Sekarang, kaum pribumi bermatapencaharian sebagai petani, pendidik dan dokter di masing – masing gereja Katolik di Indonesia. 

Karena politik ekonomi lembaga keuangan, KPK dan lainnya akan mengetahui sejauh mana harta mereka peroleh (Djan) 1980an - 2023, dari rumah serta kekejaman dan kebuasaan mereka bekerja disetiap lingkungan.

Menjadi catatan bagi mereka yang hidup berdasarkan ekonomi, politik dan budaya di Indonesia, akan berbeda kelas sosial yang mereka hadapkan. Bukan karena tata laku kehidupan sosial, dan pengetahuan tetapi ketidaksenangan meraka hidup bermasyarakat di Pontianak.

Pemerasan terjadi pada bidang birokrasi dan bisnis, sederhana saja misalnya pada konsumsi makanan dengan numpang hidup dalam rumah, hingga lain halnya menjadi kebinasaan kehidupan sosial budaya dan agama katolik – Islam di Indonesia.

Hal ini penting dalam melihat berbagai kondisi sosial budaya dan agama Katolik yang mereka percayai sebelum mengenal Tuhan. Amat sederhana ketika mereka membuat Dosa, terutama suku Dayak - Jawa - Batak. 

Dalam pergaulan dan lingkungan gereja Katolik, dan sekarang numpang hidup dan semakin tidak punya malu, untuk bekerja di lingkungan gereja katolik itulah kondisi. Itulah gambaran orang Indonesia, yang beragama Katolik - Islam di sini. 

Dengan sistem pemerintahan birokrasi beragama - toleransi di Pontianak pada masa pemerintahan 1967 hingga sekarang ini, diberbagai wilayah, termasuk pribumi dan Tionghoa Indonesia. Hal ini menjelaskan kebuasaan dan kekejaman hidup mereka di masa lalu.

Batak - Jawa - Dayak lagi dalam hal ini, (Orang) dengan keinginan seksualitas (saya) yang memaksa dengan derajat orang tua rendah mereka di Indonesia, terutama Sihombing - Marpaung tidak punya malu dalam kehidupan sosial dan budaya, serta agama protestan di Pontianak. 

Kejahatan Tionghoa Hakka - Dayak dalam birokrasi pada tahun 1980an, di Pontianak dengan berbagai kejahatan ekonomi dan bisnis maka diketahui bagaimana mereka hidup pada sandang, pangan dan papan yang menjelaskan budaya tidak punya malu mereka di pedesaan  Kabupaten Landak, dan Perbatasan dan kota Pontianak.

0 comments

Recent Posts Widget
close