Kalimantan, Tionghoa Indonesia (Hakka) karakteristik tekun dalam bekerja dan berekonomi. Sumber daya alam yang dapat dikelola berdasarkan aspek kehidupan sosial budaya di masyarakat adat Dayak berasal dari kawasan hutan di Kalimantan.
Tinggal dikawasan hutan dengan sistem ekonomi masyarakat adat Dayak,
tentunya memiliki kehidupan miskin. Seperti kawasan Kab. Landak hingga Sambas
atau di wilayah Keuskupan Agung Pontianak. Maka, dapat diketahui dengan adanya
kehidupan dan moralitas ekonomi maka Tionghoa Hakka sebagian hidup di Jakarta
untuk bekerja, dan berdagang.
Sedikit sekali birokrasi masyarakat
Tionghoa untuk bekerja, maka dengan adanya kehidupan sosial budaya yang
berbeda, tidak lepas dari ajaran benar terhadap Tuhan. Kepatuhan baik dalam
hidup di masyarakat, bukan berarti kaya dalam hal ini.
Kehidupan sosial akan tampak dengan budaya kerja masyarakat
Tionghoa Hakka, dan kelas pekerja yang berasal dari kalangan non kristiani. Hal
ini untuk diketahui bagaimana perbedaan agama katolik di Indonesia, dengan masyarakat
pribumi.
Maka, untuk mengetahui berbagai hal terkait dengan moralitas dan budaya sosial akan tampak dengan dinamika sosial masyarakat yang hidup di kawasan hutan hingga saat ini. Jakarta, memiliki persoalan terhadap pembangunan ekonomi.
Masyarakat serta budaya yang melatarbelakangi ketika berurbansiasi untuk jauh dari kehidupan miskin, dan bangkrut perusahaan hutan milik Tionghoa Hakka disini. Jakarta, iman Katolik tidak demikian dalam setiap aktivitas sosial dan budaya yang bekerja hingga saat ini.
Pada tahun 1998 – 1999 tepat dengan ada masalah krisis ekonomi terjadi di Ibukota Jakarta, dan konflik etnik Madura – Dayak di Pontianak. Pribumi, dengan asimilasi budaya dan seksualitas dapat diketahui kehidupan sosial budaya dan agama.
Yang melatarbelakangi iman hidup mereka secara seksualitas, dan budaya Barat di masa lalu. Hal ini menjelaskan bahwa berbagai iman katolik akan tumbuh dengan adanya kasih sesama, dan berbeda iman adalah kemanusiaan.
Dengan adanya persoalan dan masalah diskriminasil tentunya
birokrasi penting dalam melihat bagaimana kehidupan sosial budaya dan agama
yang lekat pada dinamika budaya masyarakat Tionghoa Hakka yang hidup di bumi
Kalimantan.
Jakarta, didominasi masyarakat Tionghoa Hokkien maka sistem
ekonomi begitu lambat terjadi karena adanya masyarakat Jawa Katolik – Islam di
Indonesia, sehingga konflik bisnis terjadi dengan adanya budaya dan konsumsi.

0 comments