Tuhan, Spritualitas Dan Bisnis Masyarakat Adat - Tionghoa Indonesia

Pontianak, sejak tahun 1967 memiliki rentang waktu yang masih pendek terhadap sejarah Kalimantan Barat. Pada tahun itu juga konflik terjadi masyarakat adat Dayak dan Tionghoa hal ini menjelaskan adanya dugaan perebutan sumber daya alam, politik, dan hukum yang menyimpang hingga waktu ke waktu.

Hal ini, untuk diketahui dengan pengenalan akan Tuhan dipastikan adanya perubahan kota yang masih berbeda dengan Ibukota Jakarta, maka dimungkinkan rasa syukur dan ekonomi lebih baik pindah dengan adanya konflik setelah kekuasaan Gubernur Oevang Oeray 1945 -  1967.

Spritualitas dalam hal ini, dikenal dengan akan Tuhan pada tahun 1880an di Sejiram, Kapuas Hulu. Tempat tertua, setelah Jawa dengan ekonomi yang menjadi garis bawah terhadap kemiskinan. Tetapi, pada rentang waktu setelah pemahaman akan Tuhan dilangsungkan oleh Misionarias maka tepat pada tahun itu juga, baru dipahami adanya konflik etnik masa Kolonial Belanda.

Manusia yang berada pada persoalan manusia dan kebiadaban mereka terhadap birokrasi, politik, budaya dan hukum telah menjelaskan bagaimana masyarakat adat di pedalaman berlangsung dengan adanya sistem ekonomi politik terutama pada masyarakat Tionghoa Hakka di Pontianak.

Terutama dalam hal ini pembangunan ekonomi, pendididkan dan kesehatan yang menjadi catatan terhadap resistensi dan kemiskinan. Maka, pada tahun 1980an pada masa Orde Baru, gereja katolik terutama imam memahami persoalan umat mereka dalam sistem politik di Indonesia, terutama di Kalimantan Barat.

Hidup membiara dalam rumah tangga, lebih baik menjadi peilihan bagi sejumlah umat yang tinggal di Kalimantan Barat, terutama di Kapuas Hulu. Sampai sebelum urbansiasi dan migrasi terjadi pada masa rentang waktu kolonial Belanda – Kemerdekaan RI.

Hingga saat ini, untuk mendapatkan ekonomi atau uang tentunya mereka menggunakan aset, seperti emas,  rumah, dan lainnya dalam menjelaskan berbagai hal ini dapat utang masing – masing kehidupan sosial budaya dan agama kristiani mereka di masa lalu.

Kehidupan masyarakat adat di pedalaman, terutama yang hidup di perkotaan dan bekerja bagi bisnis masyarakat Tionghoa Hakka, baik itu sebagai kuliner, pertokoan, pendidik, medis, serta petani dapat diketahui berbagai hal terkait dengan kehidupan sosial budaya dan agama katolik dan non akan berbeda jauh. Menurut sudut pandang mereka hidup di Indonesia, terutama di Pontianak dan Jakarta.

Kemiskinan yang terjadi pada masyarakat pedesaan, tentunya merupakan salah satu budaya masyarakat Indonesia. Dengan adanya ekonomi Barat dan Liberal, sedangkan Indonesia melalui sekolah swasta Katolik dan Negeri, dan kesehatan tentunya di manfaatkan dengan baik, dengan  adanya kelicikan (dokter) yang terjadi dalam setiap institusi gereja katolik - Protestan di Indonesia sudah terjadi.



0 comments

Recent Posts Widget
close