Tionghoa Indonesia, ketika menguasai ekonomi lokal, tampak dengan aspek budaya dan agama yang mempengaruhi hukum yang diterapkan secara kekerasan. Hal ini hampir gereja katolik, dengan kelas sosial biasa dan rendah akan tampak dengan adanya masyarakat adat Tionghoa dan kehidupan sehari – hari.
Sosial Ekonomi, mulai berkembang pesat di Keuskupan Agung
Pontianak, ketika hal ini diketahui dengan adanya agama non kristiani yang
semakin banyak masuk katolik. Tidak hanya itu saja, kebutuhan ekonomi sosial,
akan lebih tampak banyak ketimbang spritualitas yang mencapai baik di Keuskupan Agung Sintang.
Organsiasi bisnis seperti yang ada di gereja katolik menjelaskan
adanya kebutuhan ekonomi sosial dan medis yang berasal dari kalangan pribumi di
Indonesia, yang mencakup orang Jawa, Dayak dan Melayu di Kalimantan secara
khusus berawal.
Kegiatan mereka saling terkait berdasarkan kepentingan politik,
kekuasaan, dan pengaruh Protestan. Hal ini jelas bagaimana kepentingan politik,
birokrasi, dan kekuasaan di Kalimantan barat, pada tahun 1980an menjelaskan
indikasi politik ekonomi, dan seksualitas yang berawal dari kekuasaan bahasa
Mandarin.
Ketika hidup miskin sebagai orang Indonesia, setelah bisnis tidak diperoleh
mereka hidup secara kolektif, kejahatan medis, pada konsumsi pada tahun 1990an
di Pontianak, dan penyingkiran pekerjaan hingga sekarang setelah konflik terjadi pada tahun 1967.
Saat ini, orang Indonesia, begitu juga Tionghoa
Indonesia dan pribumi tidak punya malu untuk beragama katolik di Indonesia, sedangkan yang non (budha - Konghucu dan Islam),
terutama di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan Jakarta. Hal ini tentunya
untuk menguasai medis dan pendidikan katolik di Indonesia (pribumi).
Pekerjaan yang dibuat dalam setiap aspek dan kepentingan berasal
dari kalangan masyarakat Tionghoa Indonesia, dan lainnya berkolektif dalam
sistem birokrasi dan kehidupan budaya sosial masyarakat adat atau Indegeous
People penduduk asli (moralitas).
Hal ini menjelaskan bagaimana karaktersitik kehidupan sosial,
mereka dalam menjual kehidupan masyarakat adat di Indonesia pada hasil hutan dan hasil laut, dengan hal ini, maka dipahami secara agama katolik di Indonesia, dan sebagai orang Tionghoa
Indonesia dan pribumi disini.
Jakarta, dapat dijelaskan adanya dinamika budaya sosial, dan agama
berlangsung dengan peran Islam di Indonesia, terutama seksualitas dan gereja
katolik berawal dari tahun 2005 – 2011, terjadi perbaikan sosial ekonomi, setelah krisis tahun 1998- 1999 dan hingga saat ini masih lambat.
Kebuasaan dan kekejaman kaum pribumi di Indonesia, telah terjadi
pada masa Orde Baru tahun 1980an, dan melibatkan orang Tionghoa Indonesia,
berdasarkan pekerjaan birokrasi dan kekuasaan serta ekonomi politik dalam
negeri dan gereja katolik, dan Orang Jawa – Melayu – Dayak, masyarakat asli.

0 comments