Tionghoa Indonesia, Kriminalitas Dan Kekerasan Di Keuskupan Agung Pontianak

Pontianak, disini yang bersekolah adalah siswa kaum pribumi dan Tionghoa yang masuk sekolah negeri, dan Swasta. Pengajar disini adalah, mereka hidup pada pendidikan di Indonesia. Kriminalitas sering terjadi ketika semasa sekolah.

Kebiadaban orang Tionghoa Indonesia dan Pribumi Jawa adalah mereka yang hidup di kawasan Keuskupan Agung di Indonesia, terutama di Pontianak. Hal ini menjelaskan seperti layaknya sekolah itu milik mereka saja.

Di Pontianak, pendidik guru mandarin (katolik), tidak tahu keluarga yang agama berbeda,  sebut saja seperti itu, biasa duduk di depan gereja katolik disini, dengan budaya Tionghoa Pontianak. Kemiskinan kota tidak heran terjadi, karena tingkah laku hidup dan karateristik hidup mereka di masyarakat Dayak dan Tionghoa.

Di Tanya kelas sosial diri mereka, adalah sebagai pendidik, pedagang, dan pekerja biasa, kaget jika ingin duduk bersama dengan kelas sosial hidup di lingkungan Keuskupan Agung Pontianak. Sedangkan pekerjaan hidup mereka sebagai pekerja di Ibukota Jakarta.

Hal ini jelas bagaimana kelas sosial dan standar hidup berdasarkan pendidikan dan Negara, serta kekuasaan di Indonesia. Kolektif menyerang pasti iya, dengan kalimat verbal, baik itu laki – laki dan perempuan dalam lingkungan gereja katolik di Pontianak, dan Jakarta.

Begitu hebat hukum di Indonesia, yang melibatkan orang Tionghoa dan Pribumi karena kemiskinan hidup mereka tetapi berani melanggar hukum Tuhan dan hukum Negara. Dengan demikian, kelas sosial, ekonomi dan bisni disekitar lingkungan KAP, dan kejahatan mereka dalam merencanakan kehidupan manusia, dan perusak ada di Pontianak dan Jakarta, serta Yogyakarta.

0 comments

Recent Posts Widget
close