Ekonomi Kerakyatan, Birokrasi Dan Gereja Katolik Di Indonesia

Kemiskinan, Hidup dilingkungan gereja katolik tentunya memiliki sejarah panjang terhadap dinamika budaya sosial yang berasal dari  kelas sosial suku Dayak di Kalimantan. Ketika mengetahui bahwa berbagai persoalan konflik etnik masyarakat adat Dayak dan Tionghoa 1967  berasal. 

Dari kalangan kelas sosial biasa seperti pedagang dan petani yang jelas dengan adanya dinamika konflik didalam hal tersebut. Konflik dapat diketahui dengan adanya pengenalan akan Tuhan, budaya Dayak yang diketahui mengerikan, tidak berbeda jauh dengan masyarakat adat suku Dayak. 

Dengan budaya dapat diketahui pelanggran hukum di Indonesia ketika suku tersebut memguasai ekonomi atau uang. Pelangaran hukum dilakukan masyarakat Dayak dan Tionghoa Hakka disini, dengan pengetahuan yang dangkal terhadap aspek kehidupan sosial, dan budaya ketika masyarakat urbanisasi. 

Maka, diketahui ekonomi di Jakarta ketika pembangunan terjadi isu kemiskinan dan pengangguran menjadi menarik bagi Negara maju untuk membantu kehidupan dan kesejahateraan masyarakat Indonesia.

Maka, untuk diketahui bahwa berbagai persoalan konflik terjadi, serta kegarangan dan kegeraman  Tionghoa Indonesia terhadap ekonomi politik, dan budaya hidup mereka di masyarakat adat di Indonesia telah menjelaskan perlakukan hidup Tionghoa pada marga djan di Pontianak pada tahun 1970an di Kab. Sintang dan Pontianak hingga sekarang.

Kaum pribumi saat ini tidak memiliki malu untuk numpang hidup, melalui teknologi, kendaraan  transportasi, dan gereja katolik di Indonesia untuk bekerja baik sebagai pendidik, dan tenaga medis. Hal ini menjelaskan bagaimana kaum priyayi dan Tionghoa Indonesia dahulu atau Jawa ketika di Indonesia, dan bangsa Melayu terhadap rakyatnya ketika itu.

Sejarah panjang migrasi Tionghoa Indonesia, tidak lepas dari kaum pribumi dan ekonomi disini, terutama suku Batak. Dengan budaya makan orang yang menjelaskan bagaimana hidup dan akses perumahan (birokrasi rendah) dan Pontianak dan Jakarta untuk bertugas. 

Mengenai terhadap politik seksualitas cabul hidup kotor dimasyarakat Tionghoa - Batak (Sihombing) - Dayak dan lulusannya disekolah gereja katolik - non yang ingin berkuasa seperti agama Budha - Konghucu melalui bahasa dan kuburan. 

Orang Tionghoa dan pribumi disini (Islam Indonesia) - Jawa, yang tidak malu saat ini dalam beragama katolik dan protestan di Indonesia menjelaskan hal tersebut.  Dengan cara cari uang dalam pelayanan hidup mengereja dan imam, itu adalah kondisi Tionghoa - pribumi di Indonesia. 

Dalam penyingkiran iman katolik melalui sekolah, di Lingkungan Keuskupan agung di Indonesia pada tahun 1970an oleh orang – orang Jawa dan Tionghoa Hakka - Hokkien. Terutama kepentingan birokrasi dan kehidupan ekonomi di Indonesia.

Tingkah laku orang kaum pribumi di Indonesia, tentunya dapat diketahui ketika hidup sebagai orang beriman dan kondisi ekonomi yang memungkingkan untuk dibantu misalnya misalnya usaha kecil mikro meliputi kebutuhan rumah tangga, pada penunjang ekonomi kerakyataan.

1930an - 1945, sedangkan kebuasaan dan kekejaman orang Tionghoa marga (bong, bisnis & pertanian) bahasa (kelas sosial, kasar djan laki - laki di kring 6) - Batak (Siregar, Sihombing - , makan orang & medis) - Tionghoa Hakka, Jawa - non priyayi dan Melayu - Pontianak.  Tidak berbeda jauh dengan budaya hidup sehari - hari atau seksualitas dihasilkan dinamis pada perbedaan kelas sosial. 

Terutama pada dinamika kelas sosial akan berbeda dengan kaum lainnya. Biasanya orang tersebut pada pilihan hidup kekayaan dan kehormatan, ketimbang kesehatan, dalam ajaran agama Katolik - Protestan,  dijelaskan. Sementara, urbanisasi pada tahun 1998 tepat pada krisis ekonomi di Jakarta rata - rata terjadi pada Orang Tionghoa.

0 comments

Recent Posts Widget
close