Shenghie Rumah Saudagar

Tan Shenghie adalah nama saudagar kaya yang terletak di pasar tengah ketika itu, merupakan salah satu toke kaya di Pontianak. Ketika mengalami kebangkrutan dagang rumah tersebut perlahan dibeli oleh keuskupan agung Pontianak, dan dijadikan tempat gereja katolik shenghie yang kini berdiri ditepian sungai Kapuas dan menghadap keraton kadariah.

Pasar tengah menjadi bangunan lama yang hingga kini digunakan oleh masyarakat Tionghoa Hakka disini untuk berdagang. Hal ini diketahui ada Tionghoa Hakka di singkawang, dan Pontianak bertepatan dengan kepentingan dagang dan militer djan ketika itu.

Sistem politik ekonomi perdagangan  diketahui sebagai tempat umum yang layak diketahui dengan adanya dinasti perdagangan dan kekayaan Tionghoa Hakka, yang memiliki kepentingan dan ketidasenangan terhadap berbagai kaum mereka disini.

Maka, untuk diketahui dengan jelas agama yang masuk beragam dalam Keuskupan Agung Pontianak, ada masyarakat Jawa, Melayu, Dayak dan Tionghoa dan Batak yang memiliki komunitas dan kepentingan disini. Maka, hati dan jiwa seseorang dapat diketahui bagaimana hidup dan cara penyingkiran orang dan para saudagar ketika itu.

Kemiskinan Keuskupan agung Pontianak, pada masyarakat dayak diketahui dengan baik termasuk Tionghoa Pontianak, dibanding dengan Jakarta. Urbanisasi dan tinggal menjadi awal dari setiap pekerjaan mereka pada sistem politik ekonomi, yang tidak memiliki malu hingga saat ini.

Miskin dan berseksualitas merupakan awal dari kehidupan para marga dan saudagar yang tinggal di Pontianak, teologia kemakmuran ketika itu diketahui dengan adanya dinamika politik, dan kemasyatan hidup, dan pemerasan dilakukan oleh militer dan birokrasi, pada tahun 1980an, pada bong. Menjadi awal rumah tangga yang berasal dari Pontianak hingga saat ini.

Pada masa konflik terjadi Itulah keburukan hidup bisnis di pontianak, dengan aspek penting laki – laki hidup mereka sebelum beragama dan sesudah beragama katolik di Pontianak. Hal ini menjelaskan bahwa kemiskinan merupakan awal dari hidup di pedesaan, sebagai, pengusaha, petani dan pekerja yang mengalami krisis dramatis.

Urbanisasi menjadi baik terhadap berbagai sistem ekonomi di pontianak, dengan menjelaskan berbagai bangunan history yang dijual seperti pakaian, toko kelontong, dan konsumsi pada kehidupan sehari – hari. Maka, untuk diketahui bahwa konflik rumah tangga, dan biara atau pastoran menjadi awal dari kehidupan kristiani baik itu mengenai jabatan dan ekonomi 1980an - 2000 hingga sekarang.

Dibalik rumah dan bangunan kuno masih terletak pada kepentingan dagang dan kehidupan sosial politik, dengan jiwa yan menderita bahkan spritualitas menjelaskan adanya dinamika budaya, dan kemiskinan hidup masyarakat adat yang tinggal di perkotaan untuk bekerja bersama saudagar, dan pemerintah RI, Sejak 1945.

Itu adalah sistem ekonomi politik Pontianak, tepatnya di pasar tengah dan sulit kehidupan masyarakat Tionghoa Hakka, menjadi baik ketika seksualitas terjadi setelah  1967 dan 1998 pada konflik yang terjadi, untuk tidak melanggar perintah Tuhan.

Maka, pada kehidupan rohani imam, dan masyarakat adat di pedesaan yang begitu buruk, dan itu sengaja dan disadari dilakukan dan dimanfaatkan oleh mereka yang tinggal dan tidak senang dengan orang Tionghoa Hakka. 

Biasanya latar belakang bukan bisnis, hal ini diketahui dengan baik ekonomi politik pontianak, dalam hal ini diketahui dengan baik sesuai dengan kepentingan gereja katolik, pada sistem politik kekuasaan dan setiap pengurusnya ketika itu. Maka, dapat diketahui karakteristik Tionghoa dan pribumi di Pontianak, sebelumnya 1989 - 2024 mengenal Tuhan Kristiani maka hidupnya berasal dari kesalahan nenek moyang dimasa lalu 1930an, terhadap berbagai konflik dan mata uang RI.

Kemana, Shenghie yang merupakan saudagar kaya itu memilih untuk bermigrasi diberbagai Negara seperti Singapore, Inggris dan Malaysia dan hingga saat ini Tionghoa dan pribumi di pontianak lebih bertekun pada pendidikan dan kesehatan di Keuskupan Agung, untuk bekerja dan lainnya. 

Disamping itu, masih tampak klenteng kuning beralas kayu papan dinding, masih berdiri baik di tepian sungai Kapuas. Dan beberapa rumah kumuh hunian masyarakat tionghoa ditengah aktivitas pasar kapuas yang berasal dari toke - toke baru. 

0 comments

Recent Posts Widget
close