Budaya Iban : Tenun Iban Melalui Dana Keistimewaan Yogyakarta

Pameran dana keistimewaan Yogyakarta, diselenggarakan di Pontianak, tepatnya museum   Kalimantan Barat, dengan dihadirkan para tamu, dan pengunjung yang turut menambah wawasan mengenai kain tenun dan mata uang yang ada di wilayah Kalimantan Barat. Kegiatan ini dilangsungkan beberapa hari pada tanggal  10 - 13 Agustus di Pontianak.

Kain tenun Sungkit Dayak Iban, ditandai dengan berbagai motif yang rumit. Warna yang digunakan adalah cerha dengan diatas datar benang merah tua. Tenun ini menggunakan teknik menyungkit, yaitu menyisipkan benang tambahan ke benang lungsin saat proses menenun sehingga menghasilkan pola timbul yang bertekstur dan mencolok.

Tenun ikat dengan motif ini biasanya digunakan sebagai selendang, hiasan busana adat dan aksesoris pernikahan dan dikembangkan sebagai produk fashion  kontemporer, dan digunakan sebagai busana modern.

Selanjutnya tenun Sidan, kain ini adalah jenis tenun ikat oleh perempuan Dayak Iban, dinamai dan motif utama bunga sidan yang merupakan simbol keanggunan, kesuburan dan kedamaian. Motif ini dapat digunakan secara umum sehingga busana sehari –hari  atau busana  pesta adat, oleh masyarakat adat Iban.

Tenun Pilih adalah jenis tenun tradisonal dayak Iban yang menggunakan bahas dasar kulit kayu ayng telah diolah menjadi lembaran kain motif utama rupa lingkaran warna biru, kuning, hitam, dan biru yang menjelaskan kekuatan alamdan jati diri bangsa budaya Dayak Iban dan sederhana, dan kenyamanan estetika fungsional khas busana tradisonal.

Tenun ini dikerjakan dengan cara menyisipkan benang tambahan secara manual ke dalam tenunan proses berlangsung. Pembuatannya terinspirasi dari bunga dan bentuk geometris serta mecerminkan nilai – nilai keseimbangan kemakmuran, serta kekuatan perempuan. Sebagai bagian dari warisan budaya Dayak Iban. Tenun pilih tidak hanya mencerminkan keterampilan seni tinggi, tetapi juga mengandung nilai spritualitas yang diwariskan secara turun temurun.

Selain tenun, ada juga tenun NTT, Sumba dan wilayah yang berasal dari pedesaan masyarakat tradisional. Sate juga merupakan identitas dari Yogyakarta yang berasal dari pembuatan arang. Pameran ini diselenggarakan dengan tempat yang dapat dipenuhi beberapa puluh orang, dengan kapasitas yang tidak ditentukan.  

Kemudian, mata uang salah alat tukar yang di Kalimantan barat, Dayak dan Melayu sebelum mengenal mata uang, maka dikenal sebagai sistem barter. Hal ini tampak dijelaskan bagaimana sistem ekonomi yang digunakan dengan perak dan emas, tembaga, dan gong. Ketika RI, maka digunakan sebagai alat tukar seperti mata uang saat ini Rp. 20.000.

Nilai tukar dan barang yang digunakan tampak dengan nilai – nilai dan budaya masyarakat adat sat ini, begitu juga dengan karakteristik dan penggunaan uang dan barang, serta konsumsi dalam sistem kehidupan buruk masyarakat adat dan baik terhadap ekonomi di perkotaan selama ini. Bagi yang ingin menyaksikan dan mengenal budaya Iban, dapat langsung mengenal kain tenun yang di pamerkan dengan tanggal yang ditetapkan.

0 comments

Recent Posts Widget
close