Gereja Katolik, Birokrasi, Konflik Etnik Dan Penguasaan Tanah

Food atau makanan adalah suatu kebinasaan dalam ajaran agama katolik, hal ini menjelaskan berbagai hal terkait dengan konflik tanah, birokrasi yang kotor sejak tahun 1945 hingga sekarang dan keterlibatan Tionghoa Indonesia, sebagai kelas pekerja, buruh, birokrasi.

Untuk menguasai tanah, hal ini terjadi tanpa terkecuali mereka yang berkerja dan bermigrasi. Singkat kata, hal ini melibatkan masyarakat adat dan Tionghoa Hakka yang tinggal di kota dan bahkan terlibat dari pembentukan seksualitas bersama Tionghoa – pribumi.

Pribumi dalam hal ini misalnya orang Dayak, Melayu dan berbagai suku yang ada di Indonesia. Hal ini menjelaskan adanya perubahan budaya lokal, dan pendatang akan berawal dari ajaran agama katolik dan kehidupan sosial budaya yang layak dipahami sebagai hidup sosial.

Pada masa sebelum Indonesia berdiri, penguasaan tanah sudah dilakukan secara kolonial, dan kolektif berdasarkan perkampungan desa dan kota. Maka, diketahui bagaimana setelah 1945 penguasaan tanah banyak dikuasai oleh penguasa Indonesia, sebagai pengusaha 1980an.

Keterlibatan Tionghoa Indonesia atau lokal ketika itu bekerja sebagai birokrasi dan bisnis tentunya berpadangan politik berbeda, maka terjadi konflik antar desa, dan pekerjaan hilang seperti kejadian yang ada di Kab. Sintang, di duga sumber daya alam.

Dengan adanya konflik budaya, dan pekerjaan muncul dengan upaya politik lokal yang terjadi, serta pengaruh upah yang rendah ketika itu sekitar Rp. 16.500 – 75.000. Maka, dapat diketahui bagaimana golongan PNS ketika itu terjadi.

Setelah gereja katolik, di Keuskupan agung dan paroki menyediakan berbagai solusi dalam setiap pekerjaan rumah, maka konflik etnik terjadi lagi pada tahun 1967 – 1998 hingga krisis ekonomi terjadi di Ibu Kota Jakarta.

Hal ini menjelaskan berbagai hal terkait dengan birokrasi yang terjadi hingga saat ini, ketika ragam, budaya dan etnik terjadi dengan adanya Tuhan dalam hidup kristiani dan non di bumi Kalimantan Barat. 

Ketika hal ini terjadi, tingkat kemiskinan terjadi dengan dinamis, terutama di kawasan hutan, yang mengakibatkan urbansiasi dan migrasi terjadi di Jakarta – dan Australia, Malaysia.

Pekerjaan yang dikerjakan juga beragam, misalnya sebagai koki dan mahasiswa yang paruh waktu bekerja, serta sebagai pendidik atau market dan dipasar. Hal ini menjelaskan kondisi kehidupan sosial budaya masyarakat Barat dan di Indonesia berbeda, terutama masyarakat Tionghoa yang tinggal disana.


0 comments

Recent Posts Widget
close